Tulisan ini saya buat bulan Maret 2010. Sekedar saya edit sedikit dan post di sini.
pada suatu kesempatan, seorang pemuda ditanya oleh Romo, “kenapa kamu tidak pernah kelihatan di gereja lagi?” sang pemuda menjawab, “maaf Romo, saya lagi sibuk kerjakan skripsi…”
pada kesempatan lain, sang dosen bertanya kepada pemuda itu, “kenapa kau lama tidak konsultasi skripsimu?” sang pemuda menjawab, “maaf pak, saya lagi banyak kegiatan di gereja.”
—————————–
Percakapan di atas saya cuplik dari homili Romo pada misa beberapa waktu yang lalu. Kebetulan sekali bagi saya tema tersebut cukup menarik dan menggelitik, karena otak saya lagi dipenuhi dengan kata kebohongan dan kejujuran. Semingguan yang lalu blog juga rame bahas tentang ini.
Orang berbohong atau berbuat tidak jujur tentunya ada alasannya. Atau mungkin juga karena terpaksa. Karena malu atau gengsi, seseorang bisa berbohong.. Misalnya seseorang mengaku pada pacarnya bahwa ia anak orang kaya. Ia mengatakan hal itu karena takut diputus pacarnya.. atau seorang siswa yang tidak mengerjakan PR berkata kepada gurunya bahwa buku tugasnya ketinggalan (padahal karena sekedar takut dihukum).
Atau karena tidak sengaja, tapi bisa juga karena tidak sadar! Contoh sederhananya seperti ini, sering terjadi orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata “Oh, tidak apa-apa! Anak pintar, enggak sakit, kok! Jangan nangis, ayo bangun!” hahaha.. kejam sekali! padahal si anak sudah siap2 nangis kesakitan tapi secara tidak langsung ia dituntun untuk membohongi diri sendiri that it’s okay oleh orang tuanya! Parah!
Tapi bisa juga karena kebiasaan trus keterusan hingga jadi profesi *eh.. Nha, yang kayak gini ini yang parah karena jelas-jelas merugikan pihak lain. Jelas ini menjadi tindak pidana.
Ada orang begitu mudahnya membuat kebohongan dan dengan mudah pula membuat kebohongan yang lain. Di satu kesempatan bilang A, di kesempatan lain bilang B, atau pada si A bilangnya C, pada si B bilangnya D. Dan apabila hal itu berlangsung terus menerus, tidak mustahil kebohongan / ketidak jujuran menjadi kebiasaan. Bisa juga kemudian ia menjadi seorang pakar, maksudnya pakar dalam melakukan kebohongan..
Menghadapi seorang yang tidak jujur memang tidak mudah.. kadang kita tidak tahu yang dikatakan itu benar atau bohongan. Apalagi bila kita berikan pemahaman bahwa yang dia lakukan itu tidak benar, bisa jadi karena gengsi atau malu atau bahkan terganggu, salah-salah kita malah dimusuhi! Tapi gak ada salahnya kan kalau mereka diberi kesempatan untuk berubah?
Tidak tega bisa menjadi salah satu alasan bagi kita untuk membiarkan seseorang melakukan kebohongan. Kita sebenarnya tahu, bahwa orang itu tidak jujur, tapi kita tidak mampu menyatakannya.Entah apapun alasannya, sikap ini justru akan membuat orang itu terperosok lebih dalam lagi di jagad bohong-bohongan dan tipu menipu. Malah tambah repot.. Yang jelas, saya yakin setiap orang punya kesempatan untuk meperbaiki dirinya, selama ada kemauan!
Akan indah apabila suatu hubungan, didasarkan pada prinsip KEJUJURAN. Tidak akan ada rasa tidak tenang, karena takut ketahuan, di lain pihak akan PERCAYA sepenuhnya, tidak ada rasa CURIGA. Enak to? Sekali lagi jujur, saya bisa bilang seperti ini karena saya dulu tukang tidak jujur.. hehehe..
Kesimpulan saya, sebusuk apapun, orang tersebut mesti dieri kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri. Dengan pendampingan tentunya. Selama dia mau, dia tentunya akan menjadi lebih baik. Tapi kalau semua sudah berupaya dan dia tetap menikmati tipu-tipu, ya biar nyemplung sumur aja..
————————
“Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia”
[Lukas 13: 8-9]
03/02/2013 at 7:48 am
Betul, mas.
Memang, kejujuran itu memang mahal harganya, makanya banyak orang yang mengambil jalan pintas untuk tidak mendekatinya (kejujuran), padahal kalo sabar dg kejujurannya itu akan indah pada waktunya.
Sebaliknya, kalo bohong ia akan menderita terus untuk menutupi kebohongan2 sebelumnya.
03/02/2013 at 8:42 am
ya, semaikin parah bila orang tersebut menjadi “nyaman” dengan kebohongan2 yang ia buat… karena akhirnya “kenyamanan” tersebut menjadi semu bahkan menjadi jurang yang menakutkan bila kebohongan terkuak…
Sugeng enjang mas Iwan, selamat berakhir pekan…
03/02/2013 at 10:44 pm
Kebohongan memang krn kebiasaan mas, kalau sdh amat sgt biasa sepertinya nggak mudah dibiasakan buat belajar jujur ,
05/02/2013 at 1:00 am
Saya pikir tetap harus diberi peluang untuk sembuh dan tentunya ada yang mau rela dampingi. Tapi kalo emang sudah susah ya buang kali aja..
04/02/2013 at 12:00 am
mdh2n yang nggak jujur cepat insaf baca ini mas he
05/02/2013 at 1:00 am
Amin…
04/02/2013 at 6:42 am
“mau jujur kacang ijo nya satu mangkok bang: #OOT
*dilempar panci
enggal enak blass kalau hidup dalam kebohongan kebohongan yah…betul sekali dan setuju sama tulisannya ini
04/02/2013 at 10:18 am
Selamat kamu dapet award dari aku ….come in check
http://andriyanichie.wordpress.com/2013/02/04/very-inspiring-bloger-award-the-first-award/
salam blogger
05/02/2013 at 1:01 am
thanks..
btw, hadiahnya apa? :p
07/02/2013 at 12:04 pm
itu kok tiba-tiba ada paragraf yang hurufnya berubah kecil-kecil ya?
08/02/2013 at 4:04 am
iya, gak tau tuh…
tapi udah saya benerin kok.. thanks!